Bulan, Matahari, dan Aku

“Kamu tahu?” tanyaku.

“Apa?” katamu balik bertanya.

“Terkadang, aku merasa hidup orang lain selalu bahagia dan penuh tawa, sedangkan hidupku penuh luka dan air mata,” jelasku.

Kamu terdiam tak memberi tanggapan.

“Coba kamu lihat ke atas,” katamu memecah keheningan.

“Apa yang kamu lihat?” tanyamu.

“Bulan,” jawabku singkat.

“Apa kamu melihat matahari?” tanyamu lagi.

“Apa kamu bercanda? Ini kan malam hari. Mana ada matahari tengah malam begini,” kataku kesal.

Kamu tersenyum, lalu berkata,

“Kamu tahukan jika malam datang, kita hanya bisa melihat bulan dan tidak melihat matahari. Itu karna mereka punya waktunya sendiri-sendiri. Mereka akan bersinar ketika waktu mereka telah datang dan waktu mereka itu tidaklah berbarengan. Jadi, kita tidak bisa membandingkannya karna mereka itu berbeda, begitu pula dengan manusia,” jelasmu.

“Lalu?” tanyaku.

“Lalu?” katamu mengulang ucapanku.

“Kenapa kamu malah berbicara tentang bulan dan matahari? Apa hubungannya mereka denganku?” tanyaku lagi.

Kamu terdiam.

Kita saling beradu tatap.

Kamu menatapku kesal,

sedangkan aku menatapmu minta penjelasan.

Kamu menghela napas,

berpaling,

dan menatap sang bulan seraya berkata,

“Pahami ucapanku itu dan berhentilah membanding-bandingkan hidupmu.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seperti Bintang

Hukum Tentang Kenangan