Di Balik Sebuah Kehilangan

Pernah nggak sih kamu merasa kehilangan?

Entah kehilangan seseorang atau sesuatu yang kamu sayang,

yang berharga buat kamu,

atau mungkin yang berarti dalam hidupmu.

Pernah?

Aku pernah.

Bahkan ada banyak kehilangan sudah pernah aku rasakan.

Mulai dari barang sampai orang.

Namun, dari sekian banyak kehilangan yang aku rasakan, ada satu kehilangan yang pada akhirnya membuatku juga harus merasakan kehilangan banyak hal yang lain. Itu terjadi ketika aku harus kehilangan seseorang yang amat aku sayangi yang membuatku juga terpaksa harus kehilangan kebahagian dalam hidupku, kehilangan pelindungku, dan yang pasti adalah aku terpaksa harus kehilangan kehadiran dan pelukan seorang bapak dalam hidupku. Dan ini adalah kehilangan yang rasanya paling menyakitkan.

Sedih, hancur, dan terpuruk itulah yang aku rasakan saat itu. Hidup yang dulunya selalu bahagia, penuh suka dan tawa, mendadak jadi hambar, hampa, dan penuh air mata. Yang dulunya selalu dimanja, dituruti, dan ditemani, dengan cepat dipaksa untuk jadi mandiri dan pemberani, yang (harus) bisa melakukan semuanya sendiri tanpa punya tempat merengek-rengek seperti dulu lagi.

Perasaan hati jadi sering berantakan, gampang marah dengan orang rumah tanpa alasan, bahkan yang paling bodoh adalah pernah marah dan kesal pada Tuhan. Aku merasa Dia tidak adil. Dia memperbolehkan teman-temanku masih bisa merasakan diantar-jemput ke sekolah oleh bapaknya, diambilkan rapor oleh bapaknya, merasakan liburan bersama bapaknya, dan segala kegiatan lain dengan bapak mereka, sedangkan aku tak lagi bisa. Aku juga kesal karna Tuhan malah mengambil bapakku yang orang baik, tetapi malah membiarkan orang-orang yang jahat tetap berkeliaran bebas di luar sana.

Bodohkan?

Ya, aku akui saat itu aku benar-benar bodoh. Namun, beruntungnya itu semua tidak berlangsung lama dan aku bisa segera tersadar kalau apa yang aku lakukan itu salah.

Aku sadar kalau terus-terusan terpuruk dan menyalahkan keadaan (apalagi menyalahkan Tuhan) tidak akan mengembalikan semuanya seperti sedia kala, tetapi hanya akan memperkeruh suasana. Aku pun juga sadar kalau ada banyak hal yang harus aku kejar dan yang pasti masih ada ibu yang harus aku jaga dan bahagiakan.

Aku sedikit demi sedikit mencoba untuk bangkit. Mencoba menerima dan menjalani hidup yang lebih baik lagi walaupun harus jatuh-bangun dan nabrak-nubruk sana-sini. Aku juga mencoba lebih menghargai waktu dan kebersamaan terlebih bersama keluarga. Aku menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bertukar cerita dan bercanda-tawa dengan keluarga. Sedikit demi sedikit menciptakan kembali kebahagiaan dan kehangatan di tengah keluarga walaupun mungkin tidak sesempurna sebelum ada luka karena hilangnya bapak diantara aku dan keluarga.

Dari banyaknya waktu yang kami habiskan bersama, dari seringnya kami bertukar cerita, ada satu kenyataan yang baru aku tahu (atau mungkin baru mau aku tahu). Kenyataan yang tak pernah aku sadari karena kurang peka dan terlalu lama menutup mata juga telinga. Kenyataan yang telat aku sadari karena sibuk memikirkan dan mengobati luka sendiri.  Berpikir bahwa aku satu-satunya yang paling terluka padahal kenyataannya bukan hanya aku saja yang terluka, tapi kami semua.

Ya, kami semua sama-sama terluka.

Kami sama-sama punya luka.

Aku, Ibu, dan Mas semuanya terluka.  Terluka karna satu hal yang sama yaitu karena kami sama-sama merasakan kehilangan.

Kami sama-sama merasa kehilangan bapak. Kami kehilangan kehadirannya yang sangat penting di tengah keluarga. Namun, kami sama-sama memilih menyimpan dan menyembunyikannya. Bukan karna malu apalagi gengsi, tapi mungkin ini adalah salah satu cara kami untuk bangkit dan saling mengobati tanpa membebani satu sama lain.

Beruntungnya apa? 

Beruntungnya adalah cara tersebut benar-benar bekerja.

Pada akhirnya, kami semua sama-sama berhasil bangkit dan melanjutkan perjalanan, sedikit demi sedikit berdamai dengan keadaan, mengikhlaskan semua yang sudah digariskan Tuhan, dan yang pasti kami sedikit demi sedikit sembuh dari luka karena sebuah kehilangan. 

Ya...

Kehilangan memang melahirkan luka, tapi tak benar jika luka membuat kita menghentikan roda kehidupan. Karena sedalam apapun lukanya, seperih apapun rasanya, hidup harus terus berjalan.

Dan percayalah,

di balik sebuah kehilangan, kita bisa belajar tentang banyak hal. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seperti Bintang

Bulan, Matahari, dan Aku

Hukum Tentang Kenangan